Senin, 10 Desember 2012

laporan praktikum PHPT


LAPORAN PRAKTIKUM
PENGELOLAAN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU


ACARA I
‘’ AGROEKOSISTEM DAN ANALISIS AGROEKOSISTEM’’





Disusun Oleh:
Nama  : Darfan Suhendra Damanik
Nim     : A1L010169


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2012

I.                   PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ekosistem pertanian / Agroekosistem ( EP ) adalah ekosistem yang proses pembentukannya ada campur tangan manusia dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan tuntutan manusia. Campur tangan manusia dapat berupa pemberian masukan energy tinggi dan biasanya mempunyai kecenderungan mengubah keseimbangan alami dan menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil bila dikelola dengan baik. Contoh masukan energi tinggi antara lain : Pestisida kimia sintetik, pupuk kimia, benih unggul dll.
Berdasarkan proses pembentukannya, ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu Ekosistem Alami dan Ekosistem Pertanian / Agroekosistem. Ekosistem Alami merupakan ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya terjadi tanpa ada campur tangan manusia, sedangkan Agroekosistem merupakan ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya terjadi karena ada campur tangan manusia.
Agroekosistem berasal dari kata sistem, ekologi dan agro. Sistem adalah suatu kesatuan himpunan komponen-komponen yang saling berkaitan dan pengaruh-mempengaruhi sehingga di antaranya terjadi proses yang serasi. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya. Sedangkan ekosistem adalah sistem yang terdiri dari komponen biotic dan abiotik yang terlibat dalam proses bersama (aliran energi dan siklus nutrisi).
Agroekosistem dapat dipandang sebagai sistem ekologi pada lingkungan pertanian. Agroekosistem kebanyakan dipakai oleh negara atau masyarakat yang berperadaban agraris. Kata agro atau pertanian menunjukan adanya aktifitas atau campur tangan masyarakat pertanian terhadap alam atau ekosistem. Istilah pertanian dapat diberi makna sebagai kegiatan masyarakat yang mengambil manfaat dari alam atau tanah untuk mendapatkan bahan pangan, energi dan bahan lain yang dapat digunakan untuk kelangsungan hidupnya (Pranaji, 2006). Dalam mengambil manfaat ini masyarakat dapat mengambil secara langsung dari alam, ataupun terlebih dahulu mengolah atau memodifikasinya. Jadi suatu agroekosistem sudah mengandung campur tangan masyarakat yang merubah keseimbangan alam atau ekosistem untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Pendekatan agroekosistem berusaha menanggulangi kerusakan lingkungan akibat penerapan sistem pertanian yang tidak tepat dan pemecahan masalah pertanian spesifik akibat penggunaan masukan teknologi (Sutanto, 2002).

B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui jenis dan fungsi agroekosistem
2.      Untuk mengenal komponen ekosistem pertanian
3.      Untuk menentukan keputusan pengelolaan agroekosistem
4.      Untuk memberi kesempatan praktikan menjadi ahli di lahannya sendiri


II.                TINJAUAN PUSTAKA

Agroekosistem atau ekosistem pertanian merupakan suatu kesatuan lingkungan pertanian yang tersusun dari komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi serta manusia dengan sistem sosialnya yang tidak dapat dipisahkan dengan komponen-komponen tersebut. Pengertian ekosistem pertanian yang paling sederhana dan mudah dimengerti oleh petani adalah hubungan timbal balik antara komponen biotik dan abiotik serta manusia pada suatu lingkungan pertanian (Luckman, 1982).
Analisis agroekosistem merupakan kegiatan terpenting dalam pengelolaan hama dan penyakit terpadu, kegiatan ini dapat dianggap sebagai teknik pengamatan terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan-keputusan pengelolaan lahan pertaniannya (Mangan, 2002).
Ekosistem pertanian merupakan ekosistem yang lebih sederhana dan kurang stabil bila dibandingkan dengan ekosistem alami. Oleh karena itu ekosistem pertanian rawan terhadap letusan hama. Kestabilan ekosistem tidak  hanya ditentukan oleh diversitas struktur tetapi oleh sifat-sifat dari komponen ekosistem. Apabila interaksi antarkomponen  ekosistem dapat dimengerti dan dapat dikelola secara tepat maka kesatabilan ekosistem dapat diusahakan.
Pengalaman serta pengetahuan individu dalam pelaksanaan konsep PHT merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan konsep PHT. Pengalaman dan pengetahuan, serta kecepatan seseorang dalam pengambilan keputusan dapat menentukan sebuah pilihan berdasarkan realita yang ada.
Unsur penyusun ekosistem pertanian dan interaksinya selalu berubah sesuai dengan besarnya faktor yang mempengaruhi menurut waktu dan tempat. Faktor tersebut antara lain : tindakan manusia, iklim, air, serangga penyerbuk, inang alternatife, gulma, dan musuh alami. Setiap unsure dalam EP memiliki peran dan sifat khusus yang dapat memperbanyak tingkat pertumbuhan dan penyebaran populasi setiap organism yang ada dalam ekosistem tersebut. Perubahan tersebut dapat diketahui melalui pemantauan agroeosistem secara teratur sehingga dapat dilakukan analisis agroekosistem yang bertujuan untuk mengatasi persoalan yang terjadi karena perubahan ekologi.
Analisis agroekosistem merupakan salah satu kegiatan terpenting dalam pengelolaan hama terpadu. Kegiatan AES dapat dianggap sebagai teknik pengamatan terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan tentang pengelolaan lahan / kebunnya. Keputusan pengelolaan tersebut misalnya kegiatan sanitasi, pemangkasan , pemupukan, teknik pengendalian. Kegiatan AAES mengharuskan melakukan sejumlah pengamatan sejumlah faktor sebelum membuat keputusan perlindungan tanaman. Faktor tersebut antara lain :
a.       hama                            e. cuaca
b.      penyakit                      f.  air
c.       musuh alami                g. kondisi kebun
d.      serangga netral            h. Gulma

III.             METODE PRAKTIKUM

A.      Alat dan Bahan
Bahan dan alat meliputi : pertanaman pangan (padi dan ubi jalar), kantong plastik, kertas plano dan alat tulis.
B.       Prosedur Kerja
1.      Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil sesuai dengan pembagian dalam setiap rombongan
2.      Persiapan bahan dan alat
3.      Penugasan mahasiswa ke lapang untuk mengamati komponen agroekosistem yang meliputi agroekosistem tanaman pangan
4.      Gambar keadaan umum agroekosistem yang diamati
5.      Hasil pengamatan ditulis pada kertas plano
6.      Koleksikan serangga/hewan yang bertindak sebagai hama dan musuh alami, juga tanaman/bagian tanaman yang bergejala sakit
7.      Presentasikan hasil pengamatan






IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Hasil Pengamatan
Hari                             : minggu, 11 November 2012
Lokasi                         : Desa karangwangkal. Kec. Purwokerto utara.
                                      Kab. Banyumas. Jawa tengah
Luas                            : Padi = 800  
                                      Ubi jalar = ± 40 batang
Waktu pengamatan     : Pukul 09:30 – 11:30 wib

Tanaman pokok : Padi Sawah
Agroekosistem tanaman Padi dan Ubi Jalar
1.    Padi
Keterangan :
A.    BIOTIK
·         Tanaman pokok      : Padi sawah
·           Tanaman lainnya    : Tidak ada, karena dilakukannya pemeliharaan yang itensif pada lahan tempat tumbuhnya tanaman pokok.        Selain itu karena kondisi  lahan tergenang, sehingga  pertumbuhan gulma tertekan.
·         penyebab penyakit : Rice Tungro Bacilliform virus (RTBV) secara  kasat mata kami tidak dapat mengetahui keberadaan patogen ini, namun hal ini dapat dilihat dari gejalah serangan yang ditimbulkannya secara morfologis: daun kerdil dan daun berwarna kuning disertai bercak warna coklat.
·         Gulma                               : Berada di pematangan sawah
a.           Rumput teki
b.           Alang – alang
c.           Babandotan 
·         Hama                                 : hama yang ditemukan antara lain:
a.           Wereng coklat
b.          Keong mas
c.           Belalang
·         Musuh alami                      : Laba – laba
·         Serangga netral                 : Semut dan capung
B.     ABIOTIK
·         Tanah          : Subur ( hal ini dilihat dari pertumbuhan   tanaman padi yang subur dan dari ciri fisik tanah yang dapat dilihat secara kasat mata. Warna tanah: coklat, suhu: sedang, drainase: baik).
·         Cuaca          : cerah, karena keadaan lingkungan berada dalam keadaan baik dan tidak adanya naungan.
·         Air               : semi teknis (menyadap langsung dari aliran air di kali tanpa adanya pintu sadap dan irigasi yang terjadwal).
·         Kelembaban : basah, karena lahan selalu tergenang.

2.    UBI JALAR
Keterangan:
A.    BIOTIK
·         Tanaman pokok                 : Ubi jalar.
·         Tanaman lainnya               : Singkong dan albasia.
·         Gulma                               :     Babandotan
-          Alang – alang
-          Putri malu
-          Rumput teki
·         Hama                                 : -    Ulat pemakan daun
-          Kepik
-          Belalang
·         Serangan netral                 : -    Capung
-          Semut
-          Laba – laba
·         Penyakit                            :  Busuk daun.
B.     ABIOTIK
·         Tanah                                : Subur
·           Cuaca                               : Cerah
·           Kelembaban                     : lembab (dekat dengan aliran air )
·           Irigasi                               : Tadah hujan
·           Sistem pertanaman           : Kebun campur
·           Keadaan naungan            : Ada (singkong dan albasia)

B. Pembahasan
Agroekosistem dapat diartikan sebagai totalitas/kesatuan lingkungan pertanian yang tersusun oleh komponen hidup (biotik) dan komponen tidak hidup (abiotik) yang saling berinteraksi  dan manusia dengan sistem sosialnya merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan komponen tersebut. (Saragih, 2000). Agroekosistem ini pada saat proses pembentukan dan perkembangannya terjadi karena ada campur tangan manusia dengan tujuan umtuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan manusia. Campur tangan manusia dapat berupa pemebrian masukan energi dan biasanya mempunyai kecenderungan mengubah keseimbangan alam dan menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil bila tidak dikelola dengan baik.
Ekosistem pertanian / Agroekosistem ( EP ) adalah ekosistem yang proses pembentukannya ada campur tangan manusia dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan tuntutan manusia. Campur tangan manusia dapat berupa pemberian masukan energy tinggi dan biasanya mempunyai kecenderungan mengubah keseimbangan alami dan menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil bila dikelola dengan baik. Contoh masukan energi tinggi antara lain : Pestisida kimia sintetik, pupuk kimia, benih unggul dll.
Agroekosistem adalah hubungan timbal balik antara sekelompok manusia atau masyarakat dan lingkungan fisik dari lingkungan hidupnya guna memungkinkan kelangsungan hidup kelompok manusia.
Konsep dari agroekosistem yaitu :
1.      Terjadi interaksi antara komponen pertanian
2.      Interaksi normal >> terjadi keseimbangan
3.      Timbul masalah bila tak seimbang interaksinya (homeostasis) terganggu.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman dibedakan menjadi dua yaitu faktor abiotik dan faktor biotik.
a.    Lingkungan biotik (makhluk hidup)
lingkungan biotik terdiri atas organisme-organisme hidup di luar lingkungan abiotik (manusia, tumbuhan, hewan dan mikroorganisme). Komponen ini terdiri atas produsen yaitu semua tumbuhan hijau yang menghasilkan makanan dengan jalan fotosintesis, konsumen ialah semua yang membutuhkan atau pemakai yang terdiri atas Herbivora, Karnivora, dan Omnivora. dan pengurai yang tugasnya menguraikan kembali zat – zat yang terdapat pada hewan dan tumbuh – tumbuhan yang telah mati, misalnya bakteri pembusuk, jamur saprofit, cacing, dan lain – lain.
b.    Lingkungan abiotik (makhluk tak hidup)
Komponen ini yaitu segala sesuatu yang terdapat di sekitar makhluk hidup. faktor abiotik terdiri atas tanah, air, udara, kelembaban udara, angin, cahaya matahari, suhu, dan lain – lain (Abdurachman, 2001). Apabila faktor tersebut kebutuhannya tidak terpenuhi maka tanaman tersebut bisa mengalami dorminasi /dorman yaitu berhenti melakukan aktifitas hidup.
Suhu merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pertumbuhan tanaman akan baik pada suhu antara 15oC sampai 40oC. Suhu akan mengaktifkan proses fisik dan kimia pada tanaman. Energi panas akan menggiatkan reaksi biokimia pada tanaman atau reaksi fisiologis dikontrol oleh selang suhu tertentu (Sowasono, 2001).
Analisis agroekosistem (AAES) merupakan kegiatan terpenting dalam pengelolaan hama dan penyakit terpadu, kegiatan ini dapat dianggap sebagai teknik pengamatan terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan-keputusan pengelolaan lahan pertaniannya. Kegiatan ini dilakukan dengan melihat beberapa faktor seperti : hama, penyakit, musuh alami, serangga netral, cuaca, air, kondisi lahan dan gulma.
Analisis agroekosistem dapat dianggap sebagai tehnik pengamatan terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan tentang pengelolaan lahan/kebunnya. Analisis agroekosistem perlu diarahkan pada proses interaksi antara dua system yang menjadi penopang utama, yakni system sosial (social system) dan ekosistem alam (natural ecosystem). Beberapa komponen natural dalam agroekosistem antara lain meliputi faktor-faktor biofisik seperti tanah, air, iklim, tumbuhan, hewan dan lain sebagainya yang satu sama lain berinteraksi dalam suatu mekanisme tertentu sehingga perubahan pada komponen yang satu akan berpengaruh pada keberadaan komponen yang lain. Misalnya saja, perubahan iklim yang mengarah pada tingkat kekeringan tertentu akan berpengaruh pada ketersediaan air di dalam tanah, yang pada gilirannya juga akan memberikan pengaruh pada sebaran tumbuhan dan hewan yang ada di atasnya. Demikian juga dengan system sosial, beberapa komponen sosial seperti demografi, organisasi sosial, ekonomi, institusi politik dan system kepercayaan adalah hal-hal yang saling memberikan pengaruh pada terbentuknya karakter tertentu, daya tahan, stabilitas dan tingkat kemajuan (Rambo, 1983). Sementara itu, interaksi antara system sosial dan system natural  dalam sebuah agroekosistem juga saling memberikan pengaruh. Perubahan pada system natural akan berpengaruh pada system sosial, dan sebaliknya perubahan dalam system sosial juga akan memberikan pengaruh pada system natural.
Pada Praktikum Analisis Agroekosistem ini, kelompok kami mengamati dua komoditas utama yaitu tanaman Padi dan Ubi jalar. Kami melakukan pengamatan pada hari minggu tanggal 11 November 2012. Pengamatan kami berlokasi di Desa karangwangkal. Kec. Purwokerto Utara. Kab. Banyumas. Jawa tengah. Seperti yang telah kami ketahui, komoditas Padi  dan  Ubi jalar merupakan dua komoditas yang bisa dikatakan pokok di daerah tersebut. Hal itu dikarenakan faktor abiotik dan biotik yang sangat mendukung terhadap pertumbuhan dari kedua tanaman yang kami amati di lahan tersebut. Seperti keadaan Tanah yang Subur ( hal ini dilihat dari pertumbuhan tanaman padi yang subur dan dari ciri fisik tanah yang dapat dilihat secara kasat mata. Warna tanah: coklat, suhu: sedang, drainase: baik). Cuaca yang cerah, karena keadaan lingkungan berada dalam keadaan baik dan tidak adanya naungan. Keadaan Air, semi teknis (menyadap langsung dari aliran air di kali tanpa adanya pintu sadap dan irigasi yang terjadwal). Serta Kelembaban, basah karena lahan selalu tergenang. faktor abiotik dan biotik sangat mendukung terhadap pertumbuhan dari kedua tanaman yang kami amati.










V.                KESIMPULAN DAN SARAN

A.    KESIMPULAN
1.      Agroekosistem merupakan hubungan timbal balik antara komponen hidup (biotik) dan komponen tidak hidup (abiotik) serta manusia pada lingkungan pertanian.
2.      Ekosistem pertanian / Agroekosistem ( EP ) adalah ekosistem yang proses pembentukannya ada campur tangan manusia dengan tujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka memenuhi kebutuhan tuntutan manusia.Komponen dasar dari agroekosistem adalah komponen hidup (biotik) dan komponen tidak hidup (abiotik).
3.      Analisis agroekosistem (AAES) merupakan kegiatan terpenting dalam pengelolaan hama dan penyakit terpadu, kegiatan ini dapat dianggap sebagai teknik pengamatan terhadap hal yang mendasari petani dalam membuat keputusan-keputusan pengelolaan lahan pertaniannya.

B.     SARAN
Pengarahan lebih ditingkatkan lagi, supaya praktikan paham betul untuk kegiatan praktikum yang akan dilaksanakan.



DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Oemi. 2001. Dasar-Dasar Public Relations (Cetakan Keduabelas). Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Anonim, 2010. Jenis-jenis ekosistem. www.blogspot.com (diakses tanggal 26 November 2010)
Gerald G. Marten, 1998. Productivity, Stability, Sustainability, Equitability and Autonomy as Properties for Agroecosystem Assessment. Jurnal Sistem Pertanian
Mangan, J. 2002. Pedoman SL-PHT Untuk Pemandu. Proyek PHT-PR/IPM-SECP. Jakarta . 21 hal
Saragih, B. 2000. Agribisnis, Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Yayasan Mulia Persada dan PT Surveyor Indonesia, Jakarta.
Sowasono, Haddy. 2001. Biologi Pertanian. Rajawali Press: Jakarta www.mahmuddin.wordpress.com.  Diakses pada tanggal 2 November 2009.
Sutanto, S. 2002. Pertanian Organik. Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

1 komentar:

  1. Jika Anda memiliki masalah keuangan, sekarang saatnya Anda tersenyum. Anda hanya perlu menghubungi Bpk. Benjamin dengan jumlah yang ingin Anda pinjam dan periode pembayaran yang sesuai untuk Anda dan Anda akan memiliki pinjaman dalam waktu kurang dari 48 jam. Saya hanya mendapat manfaat untuk keenam kalinya pinjaman 700 ribu dolar untuk jangka waktu 180 bulan dengan kemungkinan membayar sebelum tanggal kedaluwarsa. Lakukan kontak dengannya dan Anda akan melihat bahwa dia adalah orang yang sangat jujur dengan hati yang baik. Surelnya adalah lfdsloans@lemeridianfds.com dan nomor telepon WhatApp-nya adalah + 1-989-394-3740

    BalasHapus